LINGKUNGAN KERJA


Ilustrasiku mungkin baru bisa menggambarkan sedikit situasi yang terjadi di kantor. Setelah 3 kali pindah tempat kerja, aku menyadari kalua setiap kantor punya keunikan masing-masing. Kultur, lingkungan berbeda, meskipun bergerak di industry yang sama.


Kalau dibilang skripsi itu melelahkan, hey dude, dunia kerja lebih melelahkan. Kamu dihadapkan sama dunia asli, dimana hasil kerjamu itu berpengaruh besar sama reputasi perusahaan dimata pelanggan.


Tempat kerja pertamaku kekeluargaan banget, Aku sangat beruntung kerja pertama disini. Kantorku waktu itu lokasinya terpisah dengan departemen lain, bentuk kantornya sebuah rumah, ada 2 lantai, 2 lab, 1 gudang, 5 ruang meeting kecil, 1 ruang meeting besar, 3 kamar mandi, 1 musholla. Orang-orangnya hanya sedikit, gak sampai 30 orang. Mungkin karena sedikit, bonding nya lebih kuat dan aku sudah anggap mereka seperti keluarga kedua ku.


Pekerjaanku gak pernah habis, apalagi dulu aku pegang ekspor, dari jam 7 sampai jam 7 lagi masih didepan laptop kantor, kayaknya 2/3 hariku ya aku habiskan disini. Selalu lupa waktu, gak jarang makan siang dirapel ke makan malam. Malam-malam dikantorku gak pernah sendiri. Kadang anak formulasi kudu lembur karena kudu bikin sampel kue yang mau dibawa ke Lab luar besok pagi. Seringnya lembur karena harus bikin mockup/dummy kemasan atau harus kirim file design ke vendor. Kejar-kejaran sama waktu dan deadline. Belum lagi ide-ide yang suka muncul diakhir….. yang berimbas development sebelumnya tidak terpakai. Belum lagi ditelepon bule pagi buta karena disana jam 1 siang, disini jam 1 pagi 😊.’


Tapi secapek apapun itu aku saaaangat menikmati hari-hari kerjaku disana. Atasanku yang kuanggap seperti ibu dan supervisiku yang kuanggap seperti kakakku sendiri gak pernah berhenti kasih support. Selalu jadi tameng kalau aku dibombardir marketing. Ngajarin akunya sabar banget, even waktu itu disemprot mereka juga karena aku melakukan kesalahan yang sama, tapi setelahnya mereka gak jadi benci, malah ngasih aku makanan enak… biar aku tenang dan berhenti nangis. Iya… aku cengeng banget disini, gak professional banget. Tapi mereka gak ninggalin aku, jadi aku semangat untuk merubah cara kerjaku jadi lebih baik.


Seberat apapun kerjaku waktu itu, aku bersyukur aku kerjanya sama mereka. Gak ada hari tanpa ayam goreng Chef hihi yang bikin kenyang dan gak mikirin hari ini makan apa.


Tempat kerjaku yang kedua, aku mengalami culture shock. Waktu itu tempat kerja keduaku lokasinya dipabrik, jadi aku bertemu langsung dengan orang-orang dari departemen lain. Bombardir gak Cuma via telepon, langsung disemprot dimuka dari departemen lain mulai bermunculan.


Aku anggap tempat kerja kedua ku naik tingkat kesulitannya. Sekarang semua keputusan aku yang lakukan, dibantu sama asisten pribadiku haha. Trial berdua, bersih-bersih mesin berdua, bawa sampel, ngangkat roll film, angkat karton buat stacking trial sampai transport test ke depo. Untung dia badannya besar diperut jadi aku tinggal tunjuk, dia yang kerja. Kadang aku pelototin karena dia suka leha-leha dan suka masuk telat. Alhamdulillah gak balik marah. Bersyukur punya tim yang gak pernah ngeluh, mungkin ga pernah ngeluh didepan aku hehe.


Aku juga punya gengong, kami suka dipanggil “blackpink” karena kami kemana-mana selalu berempat, kami suka sharing bekal makan siang kami, yang paling kutunggu masakan Ayu dan Ibunya 😊, makanan orang selalu lebih nikmat guys, kangen tahu isi dan piscok lumer yang gendut-gendut, ah sama risolnya!. Gak jarang aku ngeluh karena badanku selalu beraroma barbeque atau ayam bakar karena kami selalu lewat ruang seasoning. Belum lagi kalau kami perlu trial di area conching. Keju cair bertebaran kebadan-badan. Kalau ada satu yang belum selesai sama kerjaannya, pasti ditungguin. Tapi aku yang paling sering pulang duluan wkwk. Miyanne chingu ya.


Tempat kerja ketigaku, banyak belajar tentang bersabar, tepat waktu dan memaafkan dengan cepat. Aku menikmati kerja disini selama masih ada teman-teman kerjaku. Bagiku, teman kerja jadi krusial. Mau kerja seberat apapun, kalau kamu bisa sharing kesulitanmu, even cuma cerita tanpa harus bisa bantu menyelesaikan kesulitan itu, ya pasti akan terlewati lebih mudah kalau ada teman yang support dan mendengarkan. Hal lain yang aku nikmati adalah jam kerja yang ontime, masuk teng 07.30, makan siang teng jam 11.00, ngemil teng jam 15.00, pulang teng 16.30. gak ada lebih, gak kurang.


Semua tempat kerja punya nilai masing-masing buatku, kultur makan siangpun berbeda. Banyak kenangan lainnya yang suka bikin senyum-senyum sendiri kalau pas lagi teringat. Ada juga memori kurang menyenangkannya, tapi cukup itu jadi pembelajaran sebagai proses pendewasaan diri saja. Buatku, dunia kerja bukan cuma jadi ajang untuk cari cuan, tapi juga tempat aku berproses jadi lebih baik versiku.


Tidak ada komentar