Minggu, 28 Juli 2019

HAKUNA MATATA | ALIA SULISTYANTI



Belum lama ini, akhirnya film The Lion King remake nya Disney. Sekarang tampilannya sudah 3D, jadi terasa lebih real. Pengisi suaranya juga keren-keren, salah satunya Beyonce Knowles yang ngisi suaranya Nala dewasa. Jujur, aku belum nonton sih film ini haha. Tapi film yang jaman dulunya sudah. Ya semenjak tinggal di Purwakarta juga kan sarana prasarana hiburan tuh terbatas banget, jadi agak susah nyempetin nonton di bioskop. 

Banyak banget yang sudah meringkas beberapa intisari dan pelajaran yang bisa diambil dari film ini, tentang parenting, sahabat, dan perjuangan. Nah, versi aku, ada dua hal yang ga aku lupain dari film SImba ini.

Pertama, karena ini ceritanya tentang singa. Dari dulu suka banget sama singa, secara simbol, singa tuh ngegambarin makhluk yang kuat, powerfull, berjiwa pemimpin, selain itu, punya sifat penyayang
sama kawanannya. Dan aku salah satu tipe singa berdasarkan jam tidur dan penyakit insomnianya. Ini ada dibuku karangannya michael breus. 

Kedua, “Hakuna Matata”, kalimat yang paling diingat. Banyak orang-orang yang hafal juga sama frasa ini, mungkin yang ga nonton lion king juga tetep ngerti. Kata Wikipedia, "Hakuna Matata" adalah sebuah perkataan dalam bahasa Swahili yang biasanya diterjemahkan menjadi "jangan khawatir". 

Yaa bener juga sih, kadang belum belum kejadian, aku udah takut duluan. Selalu ada pemikiran, nanti gimana? kalau nanti A gimana? kalau nanti B gmn? Pokoknya sering parno duluan, termasuk saat memutuskan untuk resign dari kerjaanku di Bandung. Buat aku keputusan kayak gini bikin galau 7 keliling. Gimana engga? Meninggalkan Bandung dan segala isinya yang indah-indah, siapa yang mau? lama merantau ke Bandung buat aku nyaman dan malah mulai betah sama Bandung. 

Tapi kalau terus berada dalam satu titik nyaman tersebut. Mungkin aku gak berkembang. Aku melakukan hal rutin yang itu-itu aja. Aku gatau ada apa diluar sana? aku gatau lagi ada kemampuan apa yang belum aku temukan. Intinya scoop ku tidak bisa hanya sebatas di Bandung. 

Lagi-lagi, Bandung terlalu indah untuk ditinggalkan, benar? Cuacanya, udaranya, ramah tamah orangnya, makanannya, the temptation would never end. Yep. It felt so good to stay in Bandung in long term. Pokoknya semua kenikmatan dan kenyamanan Bandung aku tinggalin. Ada alasan kuat yang buat aku harus kembali ke Purwakarta. Jaraknya hanya kurleb 80km dari Bandung. Tapi jadi terasa saaaangat jauh karena kerjaku sekarang sampai sabtu, hampir ga ada waktu untuk sesekali main ke Bandung.

Awal pindah kesini, sedihnya kerasa banget. yaa cried a lot, i cried slirHari pertama, seminggu, sebulan, masih sedih ingin kembali ke Bandung dan mempertanyakan kembali apakah keputusan aku meninggalkan Bandung adalah sesuatu yang benar? Sempat ada niatan untuk kembali ke Bandung, apapun caranya. Tapi disatu titik, aku kembali bertanya sama diri sendiri. Apakah aku tidak bisa bahagia kalau aku berada pada tempat yang tidak nyaman? Apa aku gak bisa bertahan pada situasi yang tidak nyaman?

Hakuna Matata,

Keluar dari kenyamanan, mungkin tidak berarti baik, tapi pasti ada sedikit kebaikan yang bisa dipelajari. Apapun itu. Jadi, jangan khawatir, kamu bisa melewatinya. Hakuna Matata. 


xoxo,
aliasulis. J