Selasa, 14 Mei 2019

MERDEKA FINANSIAL | ALIA SULISTYANTI


Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.
Halo teman blog ku. Kali ini tertantang lagi nih sama Bandung Hijab Blogger, untuk bahas tentang Finansial.


Cerita sedikit, awal pertama kerja setelah lulus kuliah itu di penghujung tahun 2016. Berhubung aku kerja beda kota dengan Ibu, aku diharuskan untuk ngekost lagi. Bulan pertama kerja kan tidak langsung digaji ya, tapi aku butuh makan, bayar uang kost, kehidupan, dan lainnya. Alhasil pinjam uang Ibu lagi sekitar 2 juta. Dari situ sempat ada pemikiran, kenapa dari dulu pas kuliah aku gak nabung yah, jadi setidaknya ada fase dimana aku harus kost lagi, aku bisa pakai uangku sendiri.

Singkat cerita, tahun pertama kerja, Ibu mempertanyakan jumlah tabunganku yang terkumpul selama setahun bekerja, dan ternyata tidak banyak. Dan Ibu ‘sentil’ aku, bilang, “kalau setahun Cuma bisa nabung 500.000, nanti kamu nikah pakai uang yang mana, dek?.” Rasanya pengen bilang, “What the hell, you’re fucking right....”, saat itu. Panik loh jadinya, karena aku bertanggung jawab atas masa depan aku. Mau nikah muda tapi tabungan belum ada... gimana??

Dari situ mulai deh browsing-browsing tentang finansial, karena aku mesti punya pegangan uang semisal aku tidak bekerja lagi ditempat orang atau jadi pengangguran atau terkena musibah. Satu artikel yang membuat aku semakin penasaran ingin tahu tentang finansial ini adalah ketika selesai baca artikel di blognya Malo (Mama Alodita).



Aku belajar bahwa aku belum merdeka secara finansial. Merdeka finansial maksudnya fase dimana gak perlu takut akan kehabisan uang atau jatuh miskin dan gak perlu melulu memikirkan uang.

Takaran Merdeka Finansial itu seberapa besar?
Jadi, ada yang disebut dengan Dana Darurat. Ini adalah uang kita yang tidak boleh di’colek’ siapapun termasuk diri sendiri. Fungsinya atau akan dipakai ketika, parahnya kita mengalami musibah besar, bisa jadi ada bencana alam, di PHK, dsb.

Nah, bisa dikatakan merdeka berarti ketika kita sudah memenuhi dana darurat kita, jadi gak perlu lagi deh memikirkan uang untuk masa depan dan fokus sama mimpi kita.

Dana darurat setiap orang itu beda tergantung statusnya :
1.     Single (belum menikah), Nilai dana darurat = 3x biaya hidup/ bulan
2.     Married (tapi belum punya anak), Nilai dana darurat = 6x biaya hidup/ bulan
3.     Married and have kids, Nilai dana darurat = 12x biaya hidup/ bulan

Karena ku single... Beban yang harus ditabung lebih sedikit dibanding married dan married and have kids.

Lalu, Bagaimana cara mengatur keuangan yang betul (menurut aku sih hehe)?
Dari artikel yang ditulis Malo, ada 7 pos penting dalam mengatur keuangan pribadi, yaitu :

1.     Zakat/amal 2,5% dari total pendapatan, menurutku ini penting, kadang kita lupa untuk melakukannya. Kadang ada perasaan kurang ikhlas gitu gak sih? “uang aku tinggal sedikit lagi, kalau aku sisihkan untuk amal, nanti aku gak bisa beli makan atau barang yang aku mau”.. Tapiiii, percayalah, the more we give, the more we get. Keajaiban bersedekah itu luarbiasa loh, Masya Allah, kamu harus coba sendiri.
2.     Hutang & Kewajiban, sebenarnya perbulan itu kita diizinkan mengeluarkan hutang maksimum sampai 35%. Aku pribadi membatasi pengeluaran aku perbulan untuk hutang itu tidak lebih dari 20%. Jadi kalau misal aku sudah menghutang untuk bayar cicilan handphone sekitar 20% dari pendapatan, aku menahan diri untuk tidak menyicil atau menghutang apapun lagi, baik ke orang terdekat atau ke bank sampai cicilan hp ku lunas.
3.     Dana Darurat, pengeluaran pribadi yang harus disiapkan untuk 6 bulan. Loh? Kan Ale single.. Iya sih, tapi punya dana darurat lebih banyak jadi lebih tenang, meskipun menabungnya harus lebih mati-matian. Mengumpulkannya juga tergantung kondisi kamu, misalnya kondisi sekarang ternyata cicilan aku mencapai 30%, aku mempos kan tabungan dana daruratnya hanya sebesar 10%. Ketika cicilanku mulai berkurang, persentase Dana Daruratnya dinaikan.  Yah step by step saja, kalau langsung banyak takutnya jadi stress sendiri.
4.     Dana Proteksi, aku anggap ini sama saja dengan dana darurat dulu hehe biar gak pusing sendiri membaginya. Jadi bagian ini aku lewati.
5.     Dana Investasi dan Menabung, setelah mengalami kejadian bulan pertamaku kerja masih harus meminjam uang ke Ibu, aku buat mind set bahwa nabung itu penting banget. Aku plotkan untuk disisihkan sebanyak 20%. WAJIB.
Bedanya apa sama Dana Darurat? Kalau Dana Darurat kan lebih untuk disimpan dan dikeluarkan hanya ketika ada urgensi banget. Kalau menabung lebih untuk membeli sesuatu yang jadi tujuan aku. Misalnya, mau beli hp baru, travelling, menikah, jadi ujungnya uang tabungan ini akan dipakai.
Investasi juga penting, sekarang sudah banyak cara untuk berinvestasi, ada saham, dana reksa, deposito, beli emas. Buat aku Investasi adalah dengan membeli barang yang membantu aku dalam mendapatkan uang. Misal, beli laptop, karena ini akan menjadi alat bantu aku dalam mendesign dan menulis, maka laptop dianggap sebagai investasiku.
6.     Biaya Hidup, nah, yang ini betul-betul dipikirkan mana saja pengeluaran yang memang wajib, misalnya seperti, bayar air, listrik, internet, makan, BPJS, asuransi, jangan sampai ada yang terlewat yaa.
7.     Gaya Hidup, poin ini sulit sih. Gaya hidup lebih sering jadi bumerang. Tahun pertama kerja tabunganku masih secimit mungkin karena aku terlalu mengikuti kemauan/ gaya hidup aku. Mungkin karena dulu cobain tempat-tempat nongkrong baru, ngehits, ngopi di cafe mahal, jajan jajanan yang lagi in, padahal kalau dijumlah-jumlah, misal setiap weekend beli kopi di coffeeshop sekitar 50.000/gelas, belum beli makanannya, habis itu nonton, ya kalau dijumlah...

pengeluaran weekend = pengeluaran weekdays.
pengeluaran perminggu = nya jadi 2x lipat :’.

Bisa jadi, ini adalah alasan uangku hilang tidak berwujud (mengeluarkan uang yang bukan untuk membeli barang, tidak ada wujud nyatanya).

Atau beli makeup semaunya. Misalnya brand favorit kita mengeluarkan blush on, padahal kita masih punya stock blush on di rumah.

Mungkin akan jadi berbeda ceritanya jika kamu memang berprofesi sebagai makeup artist atau beauty influencer atau beauty blogger yah. Makeup yang kamu punya atau yang dibeli kan untuk direview dan memang untuk “memancing” income. Jadi ilustrasinya makeup yang dibeli itu sebagai “modal” atau investasi, bukan gaya hidup. Intinya tetap mengikuti kondisi dan posisi kita.

Perlu sharing mengenai tips and trick mengumpulkan uang juga gak yah? Hehe


Love,
Ale.