Kamis, 21 Juni 2018

SMARTER NOT HARDER


Pernah gak sih kamu ngerasa kerja keras kamu disia-siakan sama atasan? Berkali-kali ditolak dan clueless apa yang kurang dan apa yang harus dibetulkan. Hmmm mungkin ini juga kealamin sama kamu yang lagi skripsi, tugas akhir atau tesis misal.

Pernah dengar pepatah legendaris yang berbunyi : KERJA KERAS BAGAI KUDA? Yep, kebanyakan orang berpikir yang penting kerja keras, supaya apa yang kita mau bisa kita dapatkan.

Buat aku kerja keras aja ga cukup untuk bisa memenuhi goals kita. Yang benar buatku itu kerja keras harus dengan cara/ pola pikir dan strategi yang matang.

Pola pikir kita yang menentukan seberapa efisien dan efektif kerja keras yang dilakukan. Banyak orang langsung action tanpa ada strategi di awal, let it flow banget hidupnya. Tapi menurutku itu ga efisien. Hanya kerja keras saja mungkin bisa membuat kamu buang-buang waktu karena mungkin sebenarnya kerjaan kamu itu bisa dilakukan dalam waktu singkat, dengan bantuan pola pikir dan strategi kita tadi.

Ini sudah era 20an. Harusnya semua sudah serba canggih, apa-apa sudah bisa diakses dengan mudah. Kalau dulu masih pakai tuas untuk mengangkut karung berisi beras dari truk ke gudang penyimpanan, kalau sekarang sudah pakai forklift. Kalau dulu pesan tiket kereta harus ke stasiun dan harus punya waktu luang untuk melakukan itu, sekarang sudah bisa pesan online lewat banyak pilihan apps. Kalau dulu mau keluar negeri, bahkan lintas pulau saja harus naik perahu yang bisa berhari-hari dilaut, sekarang sudah bisa lebih cepat pakai pesawat terbang.

Strategi dan pola pikir andalanku harus melek teknologi. Kenapa? Kadang orang berpikir teknologi hanya bisa membuat kita jadi lupa sama sekitar, atau malah jadi candu dan segala macam yang negatif. Padahal yang bikin teknologi dinilai buruk ya karena pola pikir manusia nya itu sendiri. Teknologi bisa bantu kita mencari jalan mudik lebih cepat dengan gmaps. Teknologi bisa bantu kita cepat merevisi dan menyelesaikan tugas akhir kita, gausah tulis dan hapus berkali2.

Jangan sampai kerja keras kita dibayar murah, pakai strategi mu. Biar capek mu ga terbuang sia-sia. Work smarter, not harder.


Jumat, 15 Juni 2018

MUDIK BACKPACKER




Ramadhan tinggal beberapa hari lagi, ga sampe seminggu. Di Indonesia, identik banget nih sama yang namanya mudik. Nah, aku termasuk salah satu dari banyak mudikers. Kalau waktu dulu, zaman masih sekolah aku mudik bareng keluarga dari Purwakarta. Kadang bareng-bareng sama tante dan sepupu-sepupuku dari Bekasi dan Jakarta. Semua bawa mobil dan bermacet-macet ria (dulu belum ada tol cipali) dan ini bisa sampai 2-3 hari diperjalanan. Fyuhh, capek tapi senang karena ini jadi ajang waktu untuk berkumpul sama sanak saudara.

Kali ini, beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Aku mudik sendiri dan dari Bandung. Tahun ini kantorku liburnya ga bareng dengan kantor teteh dan aa, mereka libur duluan huhu jd terpaksa aku mudik sendiri. Aku naik kereta by the way.

Kalau dulu kan nebeng teteh atau mama jadi barang bawaan bisa seenaknya haha, sekarang aku mesti menghemat barang bawaan karena aku pakai kendaraan umum dan sendiri. Agak takut sih, but challenging.

Disini, aku mau share persiapan aku mudik, mudik a la traveler backpacker ceritanya.
First thing first, planning.
 



Mudik kali ini sekitar 2 hari dijalan (pulang pergi) dan 3 hari di rumah Mbah, jd bawaan ku disusun cukup untuk 5 hari saja.
Tips ku, saat lebaran sebaiknya :
1. Membawa baju yang masih satu undertone. Misal nih, baju lebaran kita warnanya biru, kalau bisa kaos atau atasan lainnya yg kita bawa masih bernuansa biru, atau pilih abu-abu atau hitam. 
2. Khusus untuk muslimah, karena warna-warna baju yang kita bawa masih satu undertone, hijab yg dibawa juga masih bisa dihemat, misal cukup membawa hijab warna biru muda, navy dan hitam. Bisa membawa yang bercorak atau yang polos, up-to-you. Jadi, satu hijab yang kamu bawa bisa dipadu padankan dengan 2 sampai 3 setel atasan yang kamu bawa.
3. Underwear, karena aku hanya 5 hari include perjalanan, cukup bawa 3 pasang saja. Kalau sudah kotor seharian dipakai, bisa kamu langsung cuci dan dijemur, jadi bisa kering dan bisa dipakai lagi untuk besok hari. Jangan malas cuci sambil kamu mandi, misalnya. Pantyliner bisa bantu kamu juga untuk menghemat bawaan underwear kamu.
4. Travel Toolkit. I know, kebanyakan perempuan tuh gabisa jauh dari makeup dan skincare. Rangkaian skin care yg bisa sampai 10 items dan makeup yang bisa kamu bawa lebih dari 10 items. Tipsku, semua skincare aku pindahin ke botol dan jar kecil yang sekiranya cukup ku pakai selama 5 hari. Makeup aku cukup membawa alat yang multifungsi, misal, lipstik orange yang bisa aku pakai sebagai blush, eyeshadow dan lipstik. Mascara yang bisa aku pakai untuk bulu mata dan alis sekaligus. Untuk Makeup, saranku pilih tema makeup yang minimalis dan netral, jd ga banyak effort dan product yang kita pakai. Dandan seminimal mungkin saja yang penting muka kelihatan segar.
5. Extra. Untuk bawaan yang lain sebaiknya bawa yang kamu perlukan. Kalau kamu butuh mengerjakan sesuatu pakai laptop, bawa. Tapi kalau masih bisa ditinggal, gausah dibawa. Biar bawaanmu lebih ringan. Tapi handphone dan kamera menurutku penting dibawa untuk mengabadikan momen lebaran bersama keluarga besar. Jangan lupa, charger!

Hmm, terinspirasi? Semoga bermanfaat!

Selasa, 05 Juni 2018

Review buku : RESIGN



Pertama Aku lihat buku ini muncul di instagram Gramedia tuh excited pengen baca.
Awalnya Aku kira buku ini isinya tentang kisi-kisi tahap awal menjadi seorang enterpreneur. Hehe, but i was wrong. Ini salah satu kumpulan novel fiksi metropop. Bahasanya ringan dan sehari-hari, jadi mudah untuk Aku mencerna isi novelnya.

Long story short,
Buku ini isinya tentang keseharian karyawan-karyawan yang suka gosip tentang boss nya yang perfeksionis dan ambisius sama kerja. Mulai dari mereka terpaksa lembur, susah dapat cuti, kena marah waktu presentasi, dan hasil laporan yang dilempar si boss karena gasuka dengan hasil kerja karyawan itu.
Belum lagi boss mereka yang tergolong kaya raya dan ganteng ini masih berstatus lajang. Makin menjadi-jadi deh gosip yang beredar di kalangan the cungpret (*geng bawahan disebut cungpret di novel ini).

Hmmm. Buku ini semakin menarik buat aku karena to be honest, i am an employee too, but on food manufacturing company, not on consultant firm like how it’s written on this book.

Lucunya, ada beberapa petikan kalimat yang ternyata sama dengan yang sering Aku alami selama kerja.

“Kalau bos punya mau, anak buah harus maju!”

“Apa yang sudah kamu kerjakan sampai kamu merasa pantas mengajukan cuti?”

“Sesibuk-sibuknya cungpret, kami masih punya waktu buka media sosial- terutama untuk ngecek gosip”

“Saya nggak pernah menyuruh lembur. Kalau kamu sampai lembur, justru saya harusnya bertanya, dari pagi ngapain saja?”

Well, i would like recomend this book for relaxing your brain and mind. Sukses ka Almira Bastari dengan bukunya. Awas baperrrr.