Sabtu, 22 Oktober 2016

BEDA DUA SUDUT PANDANG

L I H A T    K E    A T A S.
Sirik, ketika kamu masih melajang sedang teman-teman sepersekutuanmu sudah punya pacar masing-masing di acara reunian kemarin sore.

Ingin seperti itu, ketika kamu mendengar canda tawa ayah dan anak yang sangat harmonis, sedang kamu sudah menjadi yatim.

Mau punya satu juga, ketika kamu menemani temanmu belanja baju dan tas bermerk, sedang kamu hanya bisa mengumpat “astagfirullah!!” dalam hati saat melihat banyak angka 0 di bandrol.

Mengumpat dan meratapi nasib, ketika kamu tema tugas akhirmu kelihatannya lebih sulit dibandingkan dengan temanmu. 

Menyalahkan orang tua, ketika rumah mu terletak disudut terpencil kota dan perlu melewati gang-gang sempit, pemukiman kumuh dan tempat pembuangan sampah akhir untuk sampai kesana.


P E R I K S A   K E   B A W A H.
Tapi pernah enggak sih sesekali, saat kamu berkomentar satu hal melalui dua sudut pandang berbeda? Waktu kamu lihat teman-temanmu punya pacar, tapi kamu sendirian jomblo dan sirik akan hal itu, pernah engga kamu juga berfikir untuk bersyukur, karena mungkin dengan kejombloan kamu ini kamu terhindar dari godaan-godaan nikmat yang haram untuk dilakukan?

Atau pernah enggak sesekali kamu bersyukur karena masih diberi kekuatan untuk memanjatkan doa agar ayah masuk syurga setiap selesai ibadah, selagi kamu iri dengan temanmu yang masih bisa bercanda gurau dengan ayahnya?

Atau mungkin bersyukur dengan tas dan baju yang kamu pakai saat ini masih bisa melindungi badan dan dokumen pentingmu dibandingkan dengan orang-orang yang hanya punya satu baju untuk satu minggu dan hanya punya kantong plastik bekas untuk melindungi buku sekolah mereka? Selagi kamu berfikir tentang seberapa inginnya kamu juga ingin membawa pulang barang-barang bermerk itu ke rumah. 

Atau....  bersyukur karena kamu masih punya rumah untuk berteduh dan dapat tidur diatas kasur dengan dinding yang kuat serta terhindar dari gigitan nyamuk dibandingkan dengan mereka yang tidur berpindah-pindah dari satu depan pintu toko ke pintu toko lainnya? Sedang kamu berfikir bagaimana nikmatnya tinggal dikawasan elit. 

Manusia tidak akan pernah merasa puas pada apa saja yang sudah diraihnya, manusia terus mencari celah kekurangan agar bisa diperbarui menjadi lebih baik. Manusia tidak pernah lelah untuk berusaha jadi yang terbaik. Tapi terkadang, seseorang jatuh berhenti dan putus asa ketika dia merasa sudah berusaha maksimal tetapi apa yang dicapainya tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Hopeless. Enggak punya harapan. Impiannya hilang.

Menurutku, untuk menghindari keputus asaan dalam hidup ini, manusia perlu banyak bersyukur atas apa yang sudah diperolehnya. Jadikan apa yang terlihat ke atasmu itu menjadi alarm untuk tetap maju dalam menjalani hidup, bukan diam meratapi keadaan. Dan jadikan apa yang terlihat dibawahmu itu menjadi peringatan bahwa Tuhan tidak benar-benar menempatkanmu pada posisi terpuruk. Masih ada yang kurang dari kamu. 

B E R S Y U K U R.

Love the watercolor wreath in the background. I have seen these all over Pinterest, might give a tutorial a try :) The subtle texture in the brush lettering is cool too.:
Source: pinterest.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar